Perguruan Tinggi Negeri vs Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Di Indonesia, umumnya kita mengenal ada 2 jenis Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta, namun ada satu Perguruan Tinggi, bersetatus Negeri tapi bukan PTN seperti yang biasanya, biasa disebut dengan PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan). Ada beberapa PTK di Indonesia, tersebar di beberapa daerah. PTK biasanya berada dibawah Kementerian, sebut saja Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, BPS, BMKG, BPN dll. Salah satu PTK yang berada di bawah asuhan Kementerian Kuangan dan juga cukup terkenal di Indonesia yaitu STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), berada di Jurangmangu (Bintaro), Kota Tangerang Selatan, Propinsi Banten. Gak perlu panjang kali lebar sama dengan luas, kali ini saya ingin membahas tentang kelemahan dan kelebihan bersekolah di PTK umumnya dan STAN khususnya, karena saya alumni STAN, jadi sedikit banyak saya tau, karena sudah saya jalani. Semoga info ini dapat bermanfaat bagi kawan-kawan yang akan melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi, lebih bijak menyikapi masa depan.

Kelemahan

1).Tidak seperti PTN, kehidupan kampus di STAN kurang dinamis. Saya tidak mengatakan kehidupan kampus di STAN membosankan dan monoton, iya mungkin kalau anda fase hidupnya selama di kampus  “kampus, warteg, kosan”, tapi ini konteksnya kalau kita bandingkan dengan PTN. Kalau anda pernah sebelumnya berkuliah di PTN, saya rasa bisa membandingkan "feel"nya kehidupan kampus lama anda dengan STAN. Mahasiswa STAN, entah karena sudah dijamin langsung kerja sebagai Pegawai Negeri di institusi terkait, atau entah karena alasan lain, membuat mereka "malas-malasan" untuk berorganisasi. Entah hal ini juga atau bukan, yang membuat sebagian lulusan Jurangmangu, yang berumur 40 ke atas sangat tidak bersosialisasi ketika berada di daerah. Mimin perhatikan, kehidupan mereka itu kantor - Rumah Dinas - Mesjid.
2).Jumlah mahasiswa/i STAN jumlahnya tidak sebanyak PTN, sekitar 3-4ribuan, dan juga jumlah mahasiswanya lebih banyak dari mahasiswinya 1:6 (tapi sekarang sudah mulai seimbang).
3).STAN itu kalau di PTN jadi Fakultas, karena spesialisasi-spesialisasinya itu gak jauh-jauh dari Keuangan, mestinya masuk Fakultas Ekonomi. Berbeda dengan PTN, ada fakultas Teknik, MIPA, Kedokteran, sospol dll. Kita itu hanya berteman dengan sesama anak keuangan, tidak berteman dengan anak teknik, anak sospol, anak kedokteran dll. Wawasan tidak bertambah? Relasi kurang?
4).Kehidupan organisasi di PTN juga lebih dinamis dan lebih hidup, juga jumlahnya lebih banyak dan banyak jenisnya, koordinasinya juga antar jurusan dan antar fakultas dan ruang geraknya juga lebih luas. Kehidupan organisasi di STAN sudah lumayan dinamis, tapi tetap tidak bisa sedinamis PTN. Organisasi di STAN dibiayai dari mahasiswa/i saat daftar ulang, tidak ada kucuran dana dari pihak kampus STAN.
5).Kehidupan di STAN, jika diatas jam 6 sore sudah sunyi, jam 8 malam keatas sudah gelap gulita, tetapi ada juga elemen kampus yang masih terang benderang poskonya, yaitu STAPALA (STAN Pecinta Alam), markas stapala ada dia area kampus dan sebenarnya ada beberapa elkam yang masih melakukan kegiatan di malam hari, tapi tetap aja "kurang rame". Di PTN? Saya kurang tau banyak, tetapi seperti yang saya perhatikan, di kampus-kampus PTN, jam 6 keatas masih banyak yang beraktifitas, baik kegiatan akademis maupun organisasi.
6).PTN yang meluluskan sarjana, jika masuk sebagai PNS di Kementerian Keuangan, akan langsung golongan IIIa, dan tidak perlu menunggu waktu yang terlalu lama, 2-3 tahun sudah bisa ikut seleksi beasiswa S2. Selain itu, pegawai dari sarjana, jika “bosan” bekerja di Kemenkeu, bisa “diam-diam” ikut seleksi penerimaan kerja di tempat kerja lain. Seperti teman saya ceritakan, ada dua orang pegawai Sekretariat Pajak Kemenkeu asal Unri dan Andalas yang “diam-diam” ikut seleksi masuk Bank Indonesia dan Pertamina, setelah lulus mereka buat sukuran di kantor Set PP Kemenkeu. Berbeda dengan sarjana, lulusan STAN Prodip III menjadi pegawai dengan Golongan IIc, sedang Prodip I dengan golongan IIa, dan tidak bisa “diam-diam” ikut seleksi kerja di tempat lain, karena ijazah ditahan sampai habis masa ikatan dinas.
7).Jumlah dosen di STAN dengan gelar Profesor jumlahnya sedikit, dan itu juga profesor "caplokan" dari Univ lain untuk mengajar bukan mata kuliah utama, untuk Doktor jumlahnya juga masih sedikit, lebih banyak dari Master dan lulusan DIV STAN. Kurangnya ilmu dan wawasan?
8).Jika anda kuliah D3 dan melanjutkan pendidikan S1, waktu normal yang akan anda tempuh kurang lebih 5-6 tahun. Tapi jika anda langsung masuk PTN Sarjana, waktu normal yang anda butuhkan selama pendidikan kurang lebih 3-4 tahun, dalam usia muda anda sudah bisa melanjutkan pendidikan S2 dan S3, kata orang-orang sih, kalau sudah ketuaan, biasanya semangat untuk sekolah berkurang.
9).Benar-benar mencetak birokrat, dan banyak yang bermental “PNS Banget” (kelebihan atau kekurangan?). Sistem membuat mereka, ketika berada di dunia kerja, tidak kreatif, monoton, tidak ada kreasi, dalam beberapa kasus ya, tidak selamanya memang begitu. Jika anda ingin berkreasi lebih dan benar-benar maksimal, anda tidak akan bisa total ketika bekerja sebagai PNS, pilihannya resign atau lanjut.
10).STAN mencetak calon pelaksana, bukan calon pimpinan, saya mengatakan hal ini karena adanya beberapa peraturan yang mendukung pernyataan saya tersebut.
11).Adanya peraturan yang 'sedikit memaksa' para alumni STAN tidak bisa langsung melanjutkan pendidikan S1, bagi yang bandel bisa-bisa saja, konsekuensinya ya ijazah S1 tidak diakui dan tidak bisa penyetaraan pangkat artinya golongan tetap, bagi Prodip 3 tetap IIc dan bagi Prodip 1 tetap IIa.

Kelebihan

1).Biaya Kuliah Gratis, tapi untuk biaya kosan, makan dll tetap harus bayar. Kuliah di STAN tidak dipungut biaya, kalau ada, itu juga biaya saat daftar ulang yang dikutip oleh BEM STAN, dan itu juga untuk keperluan kita selama di kampus. Di PTN, pasti banyak biaya yang harus dikeluarkan, biaya semesteran, uang ini itu dll.
2).Karena Ikatan Dinas, lulusannya bisa langsung ditempatkan sebagai CPNS di Kemenkeu, BPK dan BPKP, tanpa harus ikut tes cpns seperti lulusan PTN. (Mulai tahun 2013, dilakukan TKD bagi lulusan STAN sebagai syarat agar diangkat sebagai CPNS di Instansi terkait)
3).Sarana dan Prasarana kampus lumayan bagus. Walaupun kuliah di STAN gratis, bukan berarti fasilitasnya jelek. Kampus STAN lumayan luas, memiliki 6 gedung utama untuk kegiatan perkuliahan, kurang lebih 93 ruang kuliah dengan kapasitas rata-rata 40 mahasiswa yang dilengkapi AC per ruang, 1 Gedung Serbaguna, 1 Student Center, Fasilitas Olahraga dan fasilitas-fasiltas lain penunjang kehidupan kampus. Sebagai PTK sarana bagi mahasiswa cukup memenuhi standar.
4).Beban Perkuliahan di STAN tidak berat dan banyak waktu luang. Anda bisa mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan yang positif, pengembangan diri. Bisa digunakan untuk berorganisasi, berkreasi dan melakukan hal-hal yang produktif sebanyak-banyaknya, Kampus sekarang telah dan sangat mendukung bagi mahasiswanya untuk berorganisasi. Karena pintar akademis saja tidak cukup.
5).Mendapatkan Uang saku saat di tingkat III. Saat sudah jadi mahasiswa tingkat III, tidak usah takut Dropout, karena bisa mengulang satu tahun lagi.
6).Buku-buku literatur disediakan (dipinjami), juga diberikan beberapa buah buku tulis berlambangkan STAN.
7).Standar pendidikan di STAN sudah tinggi, karena kurikulum yang digunakan terus diupgrade sesuai kebutuhan stakeholder. Apa ini bisa dibilang kelebihan atau kekurangan, standar Indeks Prestasi STAN yang lumayan tinggi, untuk IP semester ganjil harus 2,4 atau lebih, untuk IP Kumulatif semester genap harus 2,75 atau lebih dengan beberapa ketentuan untuk mata kuliah tertentu tidak boleh mendapat nilai D, kalau tidak, akan Drop Out, DO.
8).Belajar mandiri. Mahasiswa STAN terbiasa belajar mandiri, karena biasanya materi-materi di kelas diajarkan sekedarnya, untuk lebih mendalam, ya belajar sendiri. Juga bagi mahasiswa yang kerjanya “leren” di kelas, pasti mau gak mau harus belajar “mandiri” saat dekat ujian. Biasanya akan ada tentir dan Soal Bahas, guru tentir tentu mahasiswa rajin ber-IP "Kumlod".
9).Kesenjangan sosial tidak terlihat. Seragam kuliah ditentukan kampus, kemeja putih, abu-abu, biru dsb dan celana gelap, untuk prodip bea cukai, memakai seragam layaknya PTK lain. Tidak diizinkan membawa mobil ke kampus.
10).Sistem pendidikan STAN lebih diarahkan pada kemampuan teknis, pendidikannya lebih fokus pada penerapan ilmu, bukan hanya teoritis. Sehingga ketika memasuki dunia kerja, kemampuan anak STAN akan lebih baik dibanding Sarjana dari Kampus sana sana dan sana. Juga mental, anak STAN akan menerima kerjaan apa saja yang diberikan, berbeda dengan anak Sarjana yang akan berlagak ketika diberi kerjaan "remeh-temeh" karena merasa dirinya lebih oke. situ oke? :D
11).Kehidupan kampus STAN itu agamis, kegiatan mentoring agama dan kajian-kajian agama sering diadakan baik di lingkungan maupun di sekitar kampus sehingga banyak orang solehnya. Saat masa-masa UTS dan UAS, mendadak mesjid-mesjid penuh (persis di film 3 Idiots, kalau dekat pengumuman ujian mereka mendadak jadi alim semua), bahkan ada plesetan kalau STAN itu Sekolah Tinggi Agama Negara.
12).Pengajar-pengajar di STAN, walau bukan seorang Profesor atau Doktor ahli, mereka setidaknya pembuat kebijakan atau pelaksana di Kementerian Keuangan, sehingga ilmu yang diajarkan, langsung berasal dari ahlinya di bidang keuangan pemerintah. (Saya kurang tau berapa banyak Profesor dan Doktor yang mengajar di STAN)
13).Seleksi masuk STAN yang sepengetahuan saya belum ada celah untuk curang dan dari jumlah peminat yang mencapai ratusan ribu pelamar tiap tahunnya, membuat kampus ini selalu menjaring mahasiswa/i dengan background prestasi yang tidak bisa dianggap remeh dan kemampuan-kemampuan yang unik, dan juga mahasiswanya berasal dari seluruh Indonesia, membuatnya jadi lebih berwarna dalam berkehidupan kosan.

Kepada kawan-kawan SMA, ada baiknya jika memang "kuliah itu untuk mendapatkan Pekerjaan", apapun kerjanya, asal pendapatan lumayan, masuklah STAN atau PTK lain, tetapi kalau ingin mencari yang lebih dari sekedar kerja, saya sarankan sebaiknya jangan masuk STAN atau PTK lainnya. Satu lagi, jangan “tertipu” dengan Seragam anak-anak PTK yang terlihat “keren”. Kehidupan kampus di PTK, proses pembelajaran mereka dan pekerjaan saat di kantor setelah selesai pendidikan, belum tentu dan tidaklah sekeren Seragam yang mereka pakai. 

STAN tetaplah STAN yang punya kelebihan dan kekurangan, tetapi bagi kami alumni STAN, yang telah menyelesaikan pendidikan dari STAN, adalah satu kebanggan tersendiri dan rasa sangat bersyukur kepada Sang Pencipta pernah mengenyam pendidikan di kampus Perjuangan, kampus Jurangmangu, kampus bintaro. Semoga STAN selalu jaya dan tetap terhormat.

7 Komen:

Budyarto mengatakan... Reply Comment

nomer 4 sama nomer 1 di bagian kelemahan kayaknya sama aja

Ari Wibowo mengatakan... Reply Comment

Asyik... :)

Rahmatullah Barkat mengatakan... Reply Comment

Kenalkan saya jg mahasiswa STAN, 103020007398. Angk 2010. Sekedar ingin komentar beberapa hal ttg kelemahan kmpus kita.
Saya rasa sangat kurang setuju dgn bbrpa poin menyangkut kehidupan sosial di kampus, contohnya, kata kurang dinamis yang ambigu dan tidak jelas, caplokan tidak kreatif, monoton, kurang bebas. Ukurannya di mana? Hitung-hitungnya di mana? Pengalaman anda saja? Segelintir orang yang berada di lintgkaran saja?


Saya, dri pengalaman saya selama 3 tahun "menyibukkan" diri, banyak melihat baik itu yg berbau akademis dan non akademik, kita diberi ckup banyak pilihan, mau sedinamis apa mahasiswa itu jadinya. Khususnya, di tahun saya, saya cukup bangga sekaligus tidak menyangka sebelumnya, dgn acara, charity, lomba, dari kepanitiaan, club, organisasi dan orang orang di dalamnya, yg ternyata tidak, malah jauh, dari kata monoton.

Apalagi mulai awal 2013 kampus tercinta kita sudah punya kebijakan baru. Ada dukungan besar, dalam bentuk materiil maupun moril agar kehidupan non akademis, terlebih akademis spti lomba, berjalan lancar. Tapi bukan berarti sebelumnya tidak didukung.

Jadi beberapa kelemahan diatas cacat, mungkin di jaman dulu bisa dikatakan seperti itu, tapi saya melihat sebaliknya sekarang. Semua kembali ke indvidunya.

Oh iya, menurut saya kurang wawasan atau tidak dosen di stan krn sedikitnya profesor spti kata anda... setidaknya mereka sebagian orang lapangan kan? Itu yg lbih baik

Oh ya, kalau malam sempatkan ke student centre deh. Pasti gak pernah sepi tiap malam.

Ma'arif Siregar mengatakan... Reply Comment

Oh begitu rupanya...

MnU mengatakan... Reply Comment

Yah, bandinginnya kurang pas itu, masa PTN dibandingin Sekolah tinggi, setahu saya, sekolah tinggi dimana2 cuma khusu aja (dalam artian keilmuannya).
Sekolah tinggi ilmu ekonomi, sekolah tinggi ilmu pariwisata, sekolah tinggi ilmu komputer.
Kalau PTN, terdiri dari banyak fakultas dan jurusan.
Jadi hal yang dibandingkan di artikel ini tidak sama gan.
Harusnya PTN dibandingkan dengan PTN, atau PTS. Trus Sekolah Tinggi dibandingkan dengan Sekolah Tinggi atau Akademi.
Begitu menurut saya.

Ma'arif Siregar mengatakan... Reply Comment

IMO
karena anak STAN kira2 90% lebih sudah lebih dahulu masuk PTN, jd bandingannya PTN, dan kenapa lebih memilih STAN dibanding PTN-PTN itu...

Toko Online Ramuan Madura mengatakan... Reply Comment

banyaan kelebihannya donk di STAN. STAN emang kereeeen