Sejarah Tebing Tinggi dan Kerajaan Negeri Padang

Lambang Kota Tebingtinggi Deli
"Pada masa Penjajahan, Belanda menjadikan Kampung Tebingtinggi bersama tiga kampung lainnya, sebagai Gementee. Upaya itu berdasarkan Indische Staatsregeling Tahun 1903 Pasal 123 tentang Desentralisatiewetgeving yang memberikan hak rakyat untuk berbicara melalui perwakilan. Untuk mewujudkan ketentuan itu, Belanda membutuhkan daerah kekuasaan yang lepas dari kekuasaan kerajaan. Di Keresidenan Sumatera Timur, Belanda kemudian membentuk dua daerah desentralistik (otonomi), yakni Medan dan Tebingtinggi. Belanda kemudian menerbitkan Instellings Ordonantie van Staatblad tanggal 1 juli 1917 untuk kedua daerah itu. Berdasarkan keputusan itu, Medan dan Tebingtinggi (termasuk didalamnya Badak Bejuang, Rambung dan Pasar Baru) sebagai Gementee (Government) yang terlepas dari Kerajaan Padang". (tebingtinggikota)



"Hari jadi Kota Tebing Tinggi 1 Juli 1917 perlu diadakan kajian ulang, sebab sejak ditetapkan sebagai Gementee (wilayah otonom) pada 96 tahun lalu, ternyata hingga kini tidak memiliki legalitas dan dasar hukum. Atas dasar itu, perlu dilakukan studi sejarah yang akuratif untuk menentukan hari jadi kota lintasan itu, berdasarkan data-data historis lokal yang lebih otoritatif.



Mantan anggota DPRD Tebingtinggi, Drs H Done Ali Usman MAP pada sesi tanya jawab mengungkapkan, DPRD tidak pernah mengesahkan penetapan hari jadi kota itu, karena adanya laporan data sejarah yang dibuat kala itu bias. “Saat itu akan disahkan DPRD, tapi ada laporan dari wartawan senior Amir Taat Nasution, nantinya sejarah yang dibuat itu bias. Kami pun tak jadi mengesahkannya”, tegas mantan anggota DPRD era 1971 itu di hadapan ratusan peserta.

Sedangkan pengamat sejarah Kota Tebingtinggi Drs Abdul Khalik MAP mempersoalkan penetapan hari jadi kota Tebingtinggi 1 Juli 1917 berdasarkan Ordonantie Van Staatblad 1917 tanggal 1 Juli 1917. Dikatakan, penetapan itu jelas menelikung fakta sejarah yang ada, karena banyak situs-situs sejarah menunjukkan keberadaan Tebingtinggi lebih tua dari masa itu. “Misalnya, situs sejarah lonceng ibadah di Vihara Mahadana bertarikh 1807 atau makam tertua orang Tionghoa di kuburan Sei Segiling bertarikh 1916. Juga usia Masjid Raya Nur Ad Din yang didirikan pada 1870,” paparnya.” (Medan Bisnis Daily).

Pendahuluan
Kerajaan Negeri Padang adalah salah satu wilayah berdaulat yang mempunyai pemerintahan sendiri sebelum akhirnya menjadi daerah takluk Kerajaan Deli di masa Penjajahan Belanda. Di masa setelah 1946, pasca meletusnya Revolusi Berdarah yang dinamakan Komunis Pengkhianat dengan sebutan Revolusi Sosial, Kerajaan Negeri Padang tunduk dan bergabung dengan Pemerintah Republik yang beribu kota di Negeri Jawa, dan menjadi Kewedanan Padang.

Adapun wilayah Kewedanan Padang, sebelah Timur berwatas dengan Kabupaten Asahan, sebelah Selatan dengan Kabupaten Simalungun, sebelah Barat dengan Kewedanan Bedagai dan Utara dengan Selat Malaka. Kewedanan Padang masuk dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang.

Kewedanan Padang terdiri atas 4 Kecamatan dengan Ibu Kotanya Tebing Tinggi. Menurut geografinya, Kewedanan Padang terdiri dari 2 daerah yaitu:
I. Padang Hulu dengan 2 Kecamatan yaitu, Kecamatan Dolok Merawan dan Kecamatan Sipis-pis.
II. Padang Hilir terdiri dari, Kecamatan Tebing Tinggi dan Kecamatan Bandar Khalifah.
Setiap Kecamatan diperintah oleh seorang Asisten Wedana, sekarat disebut Camat.

Tebing Tinggi, selain jadi Ibu Kota Kewedanan Padang juga menjadi Kota Otonom yang Kepala Pemerintahannya dirangkap oleh Wedana. Terakhir Daerah Kewedanan dihapus dalam Pemerintahan Republik.

Semasa Pemerintahan Belanda, Kewedanan Padang ini disebut Distrik Padang, terdiri atas 4 onder-distrik. Kewedanan Padang sendiri masuk dalam onder-afdeling Padang Bedagai di dalam Afdeling Deli Serdang. Afdeling Deli Serdang berkedudukan di Medan, diperintah oleh seorang Asisten Residen.

Sekapur Sirih Tentang Melayu Sumatera Timur
Melayu secara puak (etnis, suku), bukan dilihat dari faktor genekologi seperti kebanyakan puak-puak lain. Di Malaysia, tetap mengaku berpuak Melayu walau moyang mereka berpuak Jawa, Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya. beberapa tempat di Sumatera Utara, ada beberapa Komunitas keturunan Batak yang mengaku “Orang Kampong”- Puak Melayu. Ini semua karena diikat oleh kesamaan agama yaitu Islam, Bahasa dan Adat Resam Melayu.

Begitu juga dengan Kerajaan Padang adalah Kerajaan Melayu karena diikat oleh agama Islam, beradat resam Melayu & berbahasa Melayu, yang kini menjadi Kota Tebing Tinggi, Bandar Khalifah dan sekitarnya.

Di Sumatera Utara hingga 1946, di wilayah kemelayuan terdapat 4 Kesultanan, 4 Yang Dipertuan setingkat Kesultanan, serta beberapa Kerajaan serta Kedatukan. Kesultanan tersebut yaitu Kesultanan Langkat (ibu negeri di Tanjung Pura), Kesultanan Asahan (ibu negeri di Tanjung Balai), Kesultanan Deli (ibu negeri di Medan) dan Kesultanan Serdang (ibu negeri di Kota Galuh – Perbaungan).



Yang Dipertuan setingkat Kesultanan, adalah Yang Dipertuan Negeri Kualuh (disebut juga Kualoh Leidong, dengan ibu negeri di Tanjung Pasir), Yang Dipertuan Negeri Bilah ibu negeri di Bilah), Yang Dipertuan Negeri Panai (berbeda dengan Panei di Simalungun, Panai ber-ibu negeri di Labuhan Bilik), dan Yang Dipertuan Negeri Kota Pinang (ibu negeri di Kota Pinang).

Terdapat pula beberapa Kerajaan dan Kedatukan, sebut saja Kerajaan Padang, Kerajaan Bedagai, Kedatukkan Batubara yang turut memaktub Kerajaan Pagurawan, Tanjung Kasau, Sipare-pare, Tanjung.

Sejarah Kerajaan Negeri Padang bisa dirunut dari Sejarah Aceh
Dimula tahun 1607 dibawah kepemimpinan Iskandar Muda, Aceh semakin berjaya. Ia menaklukkan Sumatera Timur, Tanah Melayu hingga Melaka,  guna menguasai hasil bumi untuk ekspor.

Banyak diturunkan pembesar kerajaan, misalnya Ulèëbalang ke wilayah Sumatera bagian timur. Sebut saja dua bangsawan Aceh beserta rombongan. Satu Ulèëbalang kelak menjadi zuriat Datuk Paduka Raja Batangkuis Kesultanan Serdang, ialah Ulèëbalang Lumu. Sedang satu bangsawan belia mendarat di Bandar Khalifah bernama Umar.

Tidak cukup menaklukkan Bandar Khalifah, Umar  menyusuri pedalaman di hulu Raya. Saat di hutan Tongkah, ia bertemu dengan rombongan Raja Tongkah ber-clan Saragih  yang sedang berburu pelanduk. Sekarang Tongkah ini bernama Kampung Muslimin dekat Nagaraja kecamatan Tapian Dolok (Perbatasan Serdang Bedagai dan Simalungun). Salak anjing buruan tak berani menggigit Umar, karena Umar seperti mampu menundukkan anjing menyalak. Raja itu terkagum-kagum melihat sosok Umar, lalu mengangkatnya menjadi putera angkat, karena Raja yang sudah berumur  itu belum memiliki keturunan.

Sebagai anak dari ‘rumpun buluh’ (istilah lain untuk menyebut anak yang diangkat bukan dari pemberian orang tua kandungnya langsung, namun dianggap anak yang diutus Tuhan), kehadiran Umar ternyata membawa tuah, istri raja akhirnya melahirkan. Anak yang dilahirkan tersebut dinamai Raja Betuah Pinangsori. Demikian konon kabar hikayat.
Dada Mauraxa dan Tengku Luckman Sinar menulis, bahwa di wilayah Tongkah ini, diketahui adanya puing-puing peninggalan zaman Hindu purba, Rajanya pernah membantu temannya bernama Peresah untuk merebut tahta Kerajaan Nagur (Kerajaan sezaman Aru).

Ringkas kisah, Umar akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya ke hilir. Menyusuri hutan Tongkah menuju wilayah Bajenis (kini Kota Tebing Tinggi). Di wilayah yang berpadang di tempat tersebut, beliau memulai membangun kekuasaan dengan gelar Baginda Saleh Qamar pada 1630. Inilah awal berdirinya Kerajaan Padang, awal mula pemerintahan di Tebing Tinggi dan sekitarnya. Beliau mangkat pada 1640.

Sejarah Kerajaan Negeri Padang dari Naskah Tua Peninggalan Kerajaan
Dari salinan data yang berasal dari naskah tua dari Zuriat Kerajaan Padang Tebing Tinggi yang aslinya ditulis dengan aksara arab melayu berbahasa Melayu asal-usul berdirinya Kerajaan Padang, bercerita bahwa keturunan raja di negeri Padang yakni turunan dari sebuah wilayah di hulu raya.

Pada zaman dahulu adalah bangsawan bernamanya  Guk Guk, dia pergi berburu pelanduk ke hutan, karena istrinya sedang hamil dan mengidam ingin memakan pelanduk, maka pergilah Guk Guk bersama orang kepercayaan kerajaan dan masyarakatnya membawa anjing buruannya. Namun tak seekor pelanduk atau kancil yang dapat, tetapi ketika hendak pulang ke kampung, anjing pemburunya tiba-tiba menyalak melihat batang buluh beruas besar. Buluh itu kemudian dibawa pulang ke rumah. Saat itu juga Raja Guk Guk melihat istrinya melahirkan anak laki-laki kemudian diberi nama Raja Betuah Pinang Seri. Secara bersamaan Raja Guk Guk dikejutkan dengan kemunculan anak laki-laki yang ada di dalam bambu besar yang dibawanya tadi. Anak yang ada di dalam bambu itu kemudian diberi nama Umar Baginda Saleh (pendiri Kerajaan Padang). Dalam terminologi bahasa kias Melayu, anak dari ‘rumpun buluh’ dimaksud untuk menyebut anak yang diangkat bukan dari pemberian orang tua kandungnya langsung, namun dianggap anak yang diutus Tuhan.

Karena terjadi perselisihan antara keluarga, maka Umar Baginda Saleh merantau ke hilir hingga menetap di wilayah Tebingtinggi sekarang yaitu di  Bajenis Tebingtinggi.

"Meski Tuanku Umar gelar Baginda Umar Saleh Qamar berdarah bangsawan Aceh yang kelak menurunkan zuriat Kemelayuan di Tebing Tinggi, namun rasa terimakaih telah dianggap anak olek Raja Saragih Dasalak, menjadi ucapan dari mulut ke mulut bahwa zuriat Melayu di Tebing Tinggi mengaku clan Saragih pula. Hal ini mungkin pula berunsur politis, karena kekuasaan laskar Raya dan wilayah berhampiran dengan Kerajaan Padang banyak dihuni orang Simalungun, hingga menyebut diri Saragih menjadi proses pendekatan psikologis".

Sekapur Sirih Kerajaan Negeri Padang dan Tamaddun Negeri Berhamparan
Padang dalam bahasa Melayu berarti tanah yang datar dan luas yang tidak ditumbuhi pokok-pokok nan berkayu besar. Ia berarti pula lapangan. Ada beberapa pepatah Melayu menggunakan kata 'Padang'.

Sebut saja: Lain padang lain belalang (tiap-tiap negeri berlainan aturan dan adatnya), Tersesak padang ke rimba (habis akal bicara sehingga tidak ada daya upaya lagi), Padang perahu di lautan, padang hati dipikirkan (demikian luas hati itu, berapa banyak pikiran masuk di dalamnya tidak akan penuh), Di padang orang berlari, di padang sendiri berjingkat, (tabiat orang tamak, mau menerima, tetapi tidak mau memberi).

Tak sedikit nama tempat dan nama lainnya di Sumatera Timur, memakai kata Padang. Ada Padang Bulan, Padang Halaban, Sungai Padang, atau Padang Tualang.

Dalam buku Parpadanan Nabolag, ada disebutkan raja mengutus pembesar untuk mencari menantu di Padang Rapuhan. Wilayah ini sekarang lebih akrab disebut Serapuh, dekat Silou Dunia.

H. Achmad Kamiludddin Miraja dalam Kisah Semangat Juang Anak Putus Sekolah, menulis: “Syahdan, Umar Saleh tinggalnya di hulu padang. Dalam pada itu, Raja Negeri Bedagai bergelar Yang Dipertuan Raja Negeri Panjang dan di Tanjungbalai ia adalah Raja, sementara Raja Adim duduk di Tanjungbolon.  Pada suatu hari datanglah Raja Umar Saleh dari Padang menemui Raja Adim di Tanjungbolon untuk bermusyawarah membuat perjanjian bahwa antara mereka berdua sedia berserugi dan selaba. Setelah dibuat perjanjian itu, maka Raja Umar Saleh pulang ke Negeri Padang. Tidak berapa lama, Raja Umar Saleh pergi lagi ke Bedagai menghadap Yang Dipertuan Raja Panjang serta memulangkan Negeri Padang kepada Yang Dipertuan Raja Panjang dan ingin membuat aturan tanah supaya tidak saling berbantah anak cucu dikemudian hari.

Maka diaturlah: Perwatasan Padang dengan Tanjung di sebelah lat Jaring Halus dan di darat daerah Peranggiran Perlimbatan dan Perlimbatan Simpangempat. Daerah Simpangempat itu tempat banyak orang yang kena samun. Sebelah  ke barat Padang untuk yang punya tanah dan sebelah ke timur Tanjung untuk yang punya tanah. Perwatasan Tanjung dengan Dolok ialah dari Simpangempat menuju ke Parapat. Ke hulu Dolok untuk yang punya tanah dan ke  hilir Tanjung untuk yang punya tanah. Kemudian dibagi lagi tanah Datuk Saidi Muhammad – Batubara, yaitu batas sebelah tepi laut Gambus dan batas sebelah darat Rih Sigulanggulang. Perbatasan dengan Siantar, Bah Kemungmung menuju Sialang Condong”.

WHM Schadee dalam Geschiedenis van Sumatra’s Ooskust, deel I (Sumatera Instituut Amsterdam 1918) hal 104, bahwa terjadi cerita pada suatu tahun Kesawan dirampas oleh Kejeruan Padang. Turunan kelima dari Kejeruan Padang ini bernama Panglima Amal. Sedang Panglima Amal ini menjadi Sultan dengan akta Sultan Siak pada 8 Maret 1814. John Anderson saat berkunjung ke Deli pada 1823 juga bertemu dengan Panglima Amal yang telah menjadi Sultan.

Jika ingin mencari kesamaan kata saja, Kejeruan Padang dan Kejeruan Ketarin pernah ada di wilayah cikal Deli & Serdang, boleh jadi ini ada kaitan dengan Padang yang dimaksud dalam tulisan ini. Dikatakan bahwa Kesawan pernah dirampas Kejeruan Padang, yang turunan kelimanya adalah Panglima Amal, kita hitung saja satu generasi adalah 30 tahun dengan patokan tahun eksistensi Panglima Amal adalah 1814, maka 1814 – (5 x 30) = 1664. Jadi berkisar tahun 1664 Kejeruan Padang sudah ada dan sudah dikenal. Kita tidak menemukan nama kejeruan Padang di wilayah lain.

Anderson juga menjelaskan bahwa kerajaan yang dilintasi sungai Kuala Padang ini sebagai ‘an independent state’.

John Anderson, tentang Kuala Padang menulis: a considerable  sized river. This is an independent state. Radja Bidir Alam, the present chief, has reigned nineteen years. His son is Radja Muda Etam. The two principle villages are Bandar Khalifah, containing 500 inhabitants, and Bundar Dalam, 600 Malays. There are about 3000 triebe Kataran in the country. The first village is half a tide up.



Dalam Nota 1807-1888, seorang tokoh militer, politikus, dan penulis Belanda,  dalam agendanya menulis bahwa ‘Kerajaan Padang di Sumatera Timur adalah kerajaan Melayu yang menjadi negeri jajahan Deli. Raja dan rakyat berbahasa Melayu pesisir dan berbudaya Melayu yang begitu asli”. Ia juga menulis “Masyarakatnya ramah dan pandai menari Melayu diiringi lagu-lagu Melayu sendu dan suguhan makanan Melayu yang berkelas dengan campuran susu (santan) kelapa”.

Kerajaan Padang bahkan telah mempengaruhi tamaddun negeri berhampiran, sebut saja Tuanku Umar Baginda Saleh (1630); menurut buku Perbaikkan Konsep Sejarah Deli Serdang 1987), memiliki putra yang bernama Marah Ali Maluddin yang bernobat di kampong Perbatu di negeri Padang, putranya bernama Marah Jana mendirikan Tanjung Merawa – Senembah (makam beliau di Kampung Batu Bedimbar). Cucunya dari Marah Dewa, bernama Datuk Raja Paterum gelar Johan Pahlawan (Raja Tanjung Merawa) menikah dengan putri kejeruan Senembah di Sei Bahasa,1723, semasa awal berdirinya Serdang.



Ia memiliki empat putra, dua diantaranya masing-masing pindah ke Sunggal dan Sicanggang Langkat, seorang lagi bernama Datuk Tharib (Kampong Baru – Serdang), satu lagi adalah Datuk Marah Hullah (Datuk Tanjung Merawa).

Meski secara usia Kerajaan Padang di Tebing Tinggi lebih tua dari Kesultanan Serdang, hingga 1854 Padang serta Bedagai pernah menjadi negeri jajahan Serdang.

Pertempuran Serdang dengan Kolonial Belanda (1865) Di Kuala Namu
Pada masa pemerintahan Sultan Basyaruddin, Belanda masuk ke Serdang dalam Expedisi militer disebut “Militaire”. Pada tanggal 30 September 1865 pasukan Belanda berkekuatan setengah battalion infanterie, 1 detasemen khusus alat berat dan 1000 marinier menggunakan kapal perang dan 7 kapal patroli mendarat di Serdang. Sultan Basyaruddin membuat lokasi pertahanan di pedalaman hutan Koeala Namoe (sekarang Kuala Namu International Airport). Belanda kemudian menyerang lokasi pertahanan tersebut.
Serdang harus menerima kekalahan dan Sultan Basyaruddin mendapat hukuman dari Belanda dengan merampas wilayah Padang, Bedagai, Denai dan Percut yang kemudian diserahkan Belanda kepada Deli.

Pada 6 Oktober 1865, residen Riau yaitu E Netscher atas nama Gubernemen mengeluarkan akta yang menetapkan daerah taklukkan (kewaziran) Deli yaitu Padang (Tebing Tinggi), Bedagai, Denai dan Percut.
Lambang Kesultanan Deli
Berikut urutan Raja-Raja di Kerajaan Negeri Padang:
2.       Marah Sudin
3.       Marah Saladin
4.       Marah Adam
5.       Marah Syahdewa
6.       Marah Sidin
7.       Marah Titim gelar Raja Tebing Pangeran (1806-1853)
8.       Marah Hakum gelar Raja Geraha (1853-1870)
9.       Marah Huddin / Tengku Haji Muhammad Nurdin (gelar dari Deli: Tengku Maharaja Muda Wazir Negeri Padang 1870-1914).
Pemangku: Tengku Abdurrahman (Berahman), dengan ekspansi Deli dalam pemerintahan langsung yang menghunjuk wakil Deli yaitu Tengku Sulaiman (1885-1888). Tengku Ibrahim dan Tengku Djalaluddin - Tengku Temenggung Deli (Pemangku 1914-1926).
10.     Tengku Alamsyah gelar Tengku Maharaja Bongsu (1926-1931).
11.     Tengku Ismail (1931-1933).
12.     Tengku Hassim (Tengku Hassim lahir pada 29 Januari 1902 di Bandar Sakti, menjabat pada1933-1946)



RAJA-RAJA KERAJAAN NEGERI PADANG
Tuanku Umar Baginda Saleh  yang membuat istana di Bajenis – Tebing Tinggi, memiliki 4 putra yaitu Marah Ledin, Marah Sudin, Marah Alimaludin, Marah Adam serta seorang putri. Setelah Tuanku Umar Baginda Saleh  mangkat 1640, Raja beralih kepada Marah Sudin.

Turunan Marah Sudin dari garis putri beliau yaitu Meurah Zaenab yang menikah dengan orang Melayu  Pesisir Barat (Barus/Natal), yang kelak menjadi Raja Negeri Padang setelah Raja Tebing Pangeran.

Marah Alimaludin memperluas wilayah di sekitar Pabatu hingga watas Dolog Marlawan. Masa itu Marah Adam turut di Pabatu. Putra Marah Sudin, yaitu Marah Saleh Safar membentuk wilayah Mandaris hingga watas Tanjung Kasau. Putra yang lain, Sutan Ali menguasai wilayah Bulian.
Raja II. Marah Sudin
Raja III. Raja Saladin
Kerajaan Padang di zaman Raja/ Marah Saladin terpusat di Bulian. Di zamannya terkisah banyak kejayaan, meski umur beliau tak panjang.
Raja IV. Raja Adam
Raja V. Raja Syahdewa
Raja VI. Raja Sidin (sekitar 1780-1806)
Raja VII. Marah Titim gelar Raja Tebing Pangeran/ Tengku Tebing Pangeran (1806-1853)
Raja Ketujuh adalah Raja Pangeran yang tangkas dan cakap serta memimpin langsung perdagangan sampai ke luar negeri, yaitu Pulau Pinang, Singapura dan Thailand (Siam). Pada masa pemerintahan raja ini dari awal abad XIX yaitu kira-kira tahun 1806 sampai tahun 1853 perdagangan sangat pesat majunya dan pelabuhannya adalah Bandar Khalifah.

Hasil Hutan yaitu dammar, gambir, rotan dan lain-lain dari Kerajaan Raya, berkumpul di suatu tempat di tepi sungai Padang disebut Pangkalan, yaitu tempat perahu tertambat, di hulu Kampung Tanjung Marulak, Tanjung Bungan dan Rambutan. Dari situ dibawa ke hilir dengan perahu-perahu besar dinamai “sampan Sagur” ke pelabuhan Bandar Khalifah. Dan dari sini barang dagangan ini dibawa dengan kapal, sekunar, pencalang dan wangkang ke seberang yaitu Pulau Pinang, Tumasik (Singapura) dan Malaka serta Siam (Thailand).

Tempat pengumpulan barang di tepi Sungai Padang tersebut terletak di muara atau pertemuan Sungai Bahilang dengan Sungai Padang yang Tebingnya sangat tinggi dan dinamai oleh Raja Pangeran, Pangakalan “Tebing Tinggi”. Inilah asal nama Kota Tebing Tinggi yang sekarang.
Padang River

Raja Pangeran mengawasi dengan ketat jalannya perdagangan ini hingga ke pelabuhan Bandar Khalifah, itulah sebabnya beliau terkenal dengan julukan “Raja Tebing Pangeran/ Tengku Tebing Pangeran (dalam dialek setempat menjadi Tongku Tobing Pangeran)”. Dari hasil perdagangan ini Raja Tebing Pangeran membuat istana di Bandar Khalifah sampai bekas istana tersebut dapat dilihat. (Muhammad Ridwan/ Putra Praja)

Raja Tebing Pangeran memiliki putra, diantaranya adalah Tengku Haji Jamta Melayu. Tengku Haji Jamta Melayu makamnya bersebelahan dengan ayahandanya - Raja Tebing Pangeran di Bandar Khalifah. Raja Tebing Pangeran secara genekologi adalah percampuran darah Kerajaan Negeri Padang dan Kesultanan Johor.

Di masa  Raja Tebing Pangeran  inilah terbentuk negeri yang bernama Tebing Tinggi hingga beliau bergelar Raja Tebing Pangeran. Di masa beliau 1806 - 1853, Tebing Tinggi banyak berbenah sebagai pusat perdagangan dan tata nilai lainnya.

Dalam kitab Syair Padang beraksara Arab jawi, ada sebait berbunyi: “Topat selaso Tongku Malayu tahir, Tobing pun becahyo hulu ka hilir, Tongku Tobing Pangeran setawar digilir, Pado 22 dzulkaidah 1220 hijrah nabi nan akhir”. (Tengku M. Muhar Omtatok)

Syair ini mengagungkan dan menyebut tarikh penanggalan 22 zulkaidah 1220 Hijriah dan hari selasa. Jika tahun 2013 sama dengan tahun 1434 Hijriah maka 1434 – 1220 = 214 tahun, yang berarti kota Tebing Tinggi setidaknya sudah ada sejak 214 tahun lampau.

Di zaman Raja Pangeran  ini, banyak berdatangan orang luar Tebing Tinggi untuk berdagang di Tebing Tinggi, seperti berdagang Getah Balata, Rotan dan lainnya.

Di zaman ini pula dibangun pelabuhan armada laut di Bandar Khalifah. Karena Kerajaan Padang yang berpusat di Bulian – Tebing Tinggi menjadi makmur, Deli mulai ingin mengadakan ekspansi. Menurut catatan;  Raja Tebing Pangeran mengajak salah seorang putra dari istrinya : Raja Syah Bakar (dialek tempatan menyebut dengan: Raja Syahbokar)  untuk membantu beliau mengatasi upaya ekspansi Deli 1853. Deli dengan bantuan Bedagai melakukan penyerangan, yang juga melibatkan Daeng Salasa gelar Panglima Daud, seorang bangsawan kesatria berdarah Bugis di Bedagai.

Raja Padang memimpin perlawanan, peperangan hingga Deli; Bedagai sebagai sekutunya sangat kewalahan. Peperangan menghitam karena menganak sungai yang kering, hingga tempat itu selanjutnya lebih popular disebut Sungai Berong (Berong = Hitam – pinggiran luar Tebing Tinggi).

Dalam  sebuah referensi,  Raja Tengku Tebing Pangeran gugur di tangan Panglima Daud. Sumber lain mengatakan bahwa Raja Tengku Tebing Pangeran turut gugur di mata keris miliknya yang direbut Daeng Salasa gelar Panglima Daud di Kampung Juhar – Bandar Khalifah.

Keris Jenis Tumbuk Lada, Keris Milik Tengku Tebing Pangeran
Tengku Tebing Pangeran menikah dengan seorang balu beranak, serta menikah dengan gadis bangsawan Melayu Semenanjung. Makam Tengku Tebing Pangeran di Bandar Khalifah, bersebelahan dengan makam puteranya yaitu Haji Tengku Jamta Melayu.(Tengku Muhammad Muhar Omtatok - Keturunan Tengku Tebing Pangeran)

Pada Tahun 1853, Sultan Deli yaitu Sultan Usman Perkasa Alamsyah menyerang Kerajaan Padang dengan Pimpinan Panglima Daud (orang Bugis) dari Bedagai, namun dapat dikalahkan oleh Kerajaan Padang. Lalu Raja Tebing Pangeran diundang ke Bedagai atas nama Sultan Deli untuk berunding, namun dalam perjalanan menuju Bedagai di sekitar Kampung Juhar, beliau ditikam oleh Panglima Daud dengan keris beliau sendiri yang telah dicuri seorang penghianat. Raja Tebing Pangeran dikebumikan di Kampung Gelam Bandar Khalifah, tertulis “Makam Tengku Pangeran".(T. Ibnu Hibban)


Raja VIII dari Kerajaan Negeri Padang Seyogyanya adalah Raja Syahbokar, putera Raja Tebing Pangeran, namun pihak keluarga terutama dari keturunan Puang Zainab dan Barus keberatan jika Raja Syah Bokar diangkat menggantikan ayahandanya, karena beliau belum dewasa. Maka diadakanlah musyawarah keluarga, keputusannya adalah:

Pertama, bahwa pengganti Raja Tebing Pangeran, jatuh kepada cucu Raja ke-2 yakni Marah Ja’far bin Marah Saleh Safar bin Marah Sudin. Seyogyanya Marah ja’far inilah menggantikan Raja Tebing Pangeran menjadi Raja Negeri Padang, namun oleh keluarga terutama keturunan Puang Zainab dan Orang Barus, mereka mengatakan bahwa Marah Ja’far tidak waras/gila. (Makamnya di kampung Sei Suka Tanjung Kasau). Situasi menjadi panas dan tidak menentu.

Kedua, dalam situasi demikian, pihak keturunan Puang Zainab (puteri ke-2 Tuan Umar Baginda Saleh Qamar) dan Orang Barus, memutuskan mengangkat Marah Hakum, generasi ke-5 dari Puang Zainab dan orang Barus menjadi Raja Negeri Padang ke-VIII berkedudukan di Huta Usang/ Kuta Usang dengan gelar Raja geraha/ Raja Goraha. (T. Ibnu Hibban)

Raja VIII. Marah Hakum gelar Raja Geraha Negeri Padang (1853-1870)
Semasa pemerintahan Raja goraha, banyak pendatang dari Simalungun/ Raya. Di antara beberapa pendatang diangkat menjadi orang besar kerajaan, antara lain, Datur Kajum Damanik, Orang Kaya Matlahan, Bandar Hasan gelar Tuan Rambutan, Orang Kaya Syahimbang Saragih, Orang Kaya Dasiah.

Kerajaan Padang yang dipimpin  Marah Hakum gelar Raja Geraha  yang dibantu pula oleh para pembesar, sebut saja Orang Kaya Bakir yang sebelumnya sudah memegang jabatan Bendaharo. Sebutan Raja Geraha bagi Marah Hakum adalah, karena ia  dari zuriat semenda , sebab garis ayahandanya adalah berasal dari Bangsawan Melayu Pesisir Barat.

Di zaman Raja Geraha 1853 – 1870 ini, Raja juga mengangkat kerapatan ‘Orang-Orang Besar’ yang dianggapnya berjasa di Kerajaan Padang – Tebing Tinggi, untuk membantu kepemerintahannya, Misalnya Tengku Bendaro, Tengku Penasihat, Datuk Penggawo, Datuk Syahbandar, Tumenggung, Tungkat, Mufti, Penghulu, dan lainnya. Tampak nama-nama Datuk Rambutan, Orang Kaya Syahimbang, Datuk Alang, Tengku Rantau Laban, Tengku Kodei Damar, Tengku Tongkah dan lainnya.

Raja Geraha juga memberi gelar pada orang-orang besarnya seperti: Datuk, OK (Orang Kaya/ Kayo), Wan dan sebagainya.

Salah seorang pendatang dari Bandar, bernama Kajum Damanik, yang tinggal di tanjung marulak, diangkat menjadi salah satu orang besar Kerajaan dan diberi gelar "Datuk", Anak beliau bernama Datuk Muhammad Ali/ Datuk Ali diangkat menjadi Datuk Punggawa Negeri. Datuk Ali/ Datuk Penggawa mempunyai anak-anak/ putera-putera yaitu Datuk Zakaria, Datuk Yahya, Datuk Usman dan lain-lain.(T.Ibnu Hibban)
Datuk Muhammad Ali, Datuk Penggawo Negeri
Pada 6 Oktober 1865, Residen Riau yaitu E Netscher atas nama Gubernemen mengeluarkan akta yang menetapkan daerah taklukkan (kewaziran) Kesultanan Deli yaitu Kerajaan Negeri Padang, Kerajaan Bedagai, Denai dan Percut. Raja Geraha tidak setuju, kemudian berhenti dan digantikan puteranya Marah Uddin, oleh Deli diberi gelar Tengku Maharaja Muda Wazir Padang. Sedang Orang Kaya Majin gelar Datuk Indera Muda Wazir Bandar Khalifah yang menjabat selama 7 tahun lalu wafat dan digantikan puteranya Datuk Muda Indera.



Raja IX. Marah Hudin/ Haji Tengku Muhammad Nurdin/ Tengku Haji gelar Tengku Maharaja Muda Wazir Negeri Padang (1870-1914)
Raja Marah Hudin lahir tahun 1836, sesudah menunaikan ibadah haji berganti nama menjadi Haji Muhammad Nurdin. Tahun 1888 oleh Sultan Deli diangkat menjadi Wazir Negeri Padang. Sejak tahun 1888 (27 Rajab 1295 Hijriah) ketika Raja Haji Muhammad Nurdin dinobatkan oleh Sultan Deli Sultan Makmun Al Rasyid, sebagai wazir Negeri Padang, maka Tebing Tinggi resmi menjadi Tebing Tinggi Deli.

Lambang dan Bendera Kerajaan Negeri Padang
Haji Tengku Nurdin/ Tengku Muhammad Nurdin gelar Tengku Maharaja Muda mempunyai istri-istri sebagai berikut:
Istri pertama bernama Panakboru Muncu yaitu Putri Raja Raya. Setelah menunaikan ibadah haji, panakboru Muncu berganti nama menjadi Hajjah Rahmah, dengan. Mempunyai 3 orang anak yakni: Tengku Haji Rahman, wafat tahun 1927. Tengku Kemala, wafat tahun 1910. Tengku Ratna Mala, wafat tahun 1929;


Istri kedua bernama Cik Mas dari Bandar Khalifah, mempunyai seorang puteri bernama Tengku Hajjah Halimatussakdiah dan menikah dengan Tengku Abin;

Tengku Abin bin Tengku Etam, Penasihat Kerapatan Kerajaan Negeri Padang, sekaligus Raja Wazir Luhak Penggalangan (kini Penggalangan & Sungai Berong), digelari Geligasakti

Istri ketiga bernama Tengku Syarifah Zawiyah, puteri bangsawan Negeri Kedah Malaysia/ Melaka, memperoleh lima orang anak yaitu: Tengku Alamsyah, Tengku Hasyim, Tengku Fatimah, Tengku Maryam, Tengku Aminah;

Istri keempat bernama Cik Etek dari Bandar Sakti, memperoleh putera dan puteri, yaitu: Tengku Ismail, wafat tahun 1968. Tengku Sari Insana, wafat tahun 1953.

Di masa pemerintahan Marah Hudin gelar Tengku Haji Muhammad Nurdin, banyak terjadi kerjasama dengan Raya dan lainnya. Meski Deli menganggap beliau sebagai Wazir Deli dengan gelar Maharaja Muda, namun Raja Raya sangat mengakui penuh status raja beliau, bahkan Raja Raya banyak belajar sistem pemerintahan kepada kerajaan Padang, di satu sisi kerajaan Padang memperoleh bantuan pasukan dari Raya. Walau pernah terjadi kisah, saat utusan Tengku Muhammad Nurdin datang ke Raja Raya – Rondahaim Saragih, dengan membawa buah tangan berupa gramafone, Raya Raya menolak mentah mentah buah tangan yang dianggapnya sebagai khazanah kolonial.
Sisa Istana Kerajaan Negeri Padang dan Kuburan Tengku-Tengku Negeri Padang di Bandar Sakti (Bulian)
Wilayah Tongkah (Kampung Muslimin sekitarnya dekat Nagaraja ), oleh Tengku Muhammad Nurdin kembali dihidupkan, dengan mewazirkan Tengku Penasihat, yaitu Tengku Sortia - putra Jamta Melayu (Tengku Sortia adalah cucu dari Tengku Tebing Pangeran). Tengku Sortia membawakan para pekerja penanam tembakau dari etnis china. Secara berkala Tengku Sortia tetap melaporkan kondisi perkebunan ke Bulian di Tebing Tinggi (ibu negeri kerajaan Padang) karena beliau juga Tengku Penasihat, hingga perkebunan ini menjadi aset penting bagi kerajaan Padang hingga masuk revolusi sosial 1946. Di wilayah itu, Tengku Sortia dijuluki ‘Parmata’ oleh etnis Simalungun di wilayah tersebut, yang bermakna memiliki mata bathin. Tengku Sortia wafat di wilayah itu pada masa revolusi sosial maret 1946. Saat itu, Tengku Sortia sedang salat di rumahnya, di kawasan Tongkah, bersama istrinya Puang Maimunah, lalu datang sekumpulan orang menyeretnya, Tengku Sortia lalu dibunuh dan jasadnya dihanyutkan di sungai tak jauh dari rumahnya.

Tengku Achmad Sortia bin Tengku Jamta Melayu, Penasihat Hukum Adat (Pokrol) Kerajaan Negeri Padang, sekaligus Raja Wazir Luhak Tongkah (Kini Desa Muslimin & Nagur Usang), Digelari Permata.
Padang juga lebih mengaktifkan perikanan dan kelautan di wilayah Bandar Khalifah sebagai pemasukkan lain selain tembakau dari wilayah Tongkah. Zuriat Raja Tebing Pangeran yang berada di Bandar Khalifah bekerjasama dengan kaum dari Orang kaya Majin gelar Datuk Indra Muda Wazir Bandar Khalifah, menghidupkan perekonomian kerajaan ini.
Mesjid Raya Bandar Khalifah
Mesjid Raya Tebing Tinggi yang ada sekarang, dibina masa Raja Tengku Haji Muhammad Nurdin, dengan nazir pertama adalah Tuan Guru Haji Ibrahim, sebagai Masjid kerajaan; bersama itu juga dibangun masjid kerajaan di Pekan Bandar Khalifah dengan nazir Tuan Khatib Summun, Pekan Sei Berong dengan nazir Tuan Khatib Syukur, serta sebuah pemondokan di Makkah untuk rakyat kerajaan Tebing Tinggi dengan kuasa kenaziran adalah Tuan Haji Zainuddin.

Mesjid Raya Nur Addin Tebingtinggi Deli
Pada tahun 1885, Sultan Deli, Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, menganggap Raja Padang, yaitu Raja Haji Tengku Muhammad Nurdin/ Tengku Haji, tidak setia kepada Kesultanan Deli serta memecat beliau, kemudian mengangkat keluarganya yaitu Raja Muda Tengku Sulaiman menjadi pejabat Raja Negeri Padang (1885-1888). Hal ini menyebabkan Tuan Rondahaim Saragih, Raja Raya, merasa tersinggung, dan melakukan pemberontakan terhadap Kesultanan Deli dan Kolonial Belanda yang dikenal dengan "Perang Raya".
Sketsa Wajah Tuan Rondahaim Saragih Garingging Raja Raya
Raja Syahbokar, pewaris Kerajaan Padang (anak dari Tengku Tebing Pangeran - Raja ke VII), turut membantu Kerajaan Raya, dengan harapan jika diperoleh kemenangan dapat kembali mengambil posisi di Kerajaan Padang. Tapi Tuhan menentukan lain, beliau gugur dalam peperangan  terkena peluru serdadu Belanda di Bandar Bejambu, kemudian dimakamkan di daerah tersebut tanggal 9 Oktober 1887. Belanda Menilai pemberontakan ini cukup membahayakan, hingga 1888 Tengku Haji Muhammad Nurdin ditahtahkan kembali sebagai Maharaja Padang. (Tengku Ibnu Hibban)

Tengku Muhammad Nurdin yang lahir 1836 dan mangkat pada 1918 ini, ingin agar Tengku Abdurrahman (Burahman), puteranya dari istri Haji Rahmah (Cik Puang Muncu clan Saragih Raya), untuk menikah dengan puteri Raja Syahbokar yang masih belajar di Makhtab Pagurawan, yang kemudian dibawa ke Bulian. Namun beberapa tahun kemudian datang Tengku Achmad - utusan Sultan Deli, untuk meminta puteri Raja Syahbokar.

Tengku Maharaja Nurdin awalnya menolak lalu dipanggil Sultan Deli ke Medan, tapi cuma bertemu orang besar bernama Tengku Usup. Karenanya pada 1885 Maharaja Padang – Tengku Haji Muhammad Nurdin diturunkan. Beliau digantikan puteranya Tengku Burahman yang diawasi Tengku Sulaiman - Deli.

Muncullah pemberontakan yang turut melibatkan pasukan Rondahaim dari Raya. Belanda Menilai pemberontakan ini cukup membahayakan hingga 1888, Tengku Haji Muhammad Nurdin ditahtahkan kembali sebagai Maharaja Padang. (Tengku Muhar Omtatok)

Di masa Sultan Deli, Sultan Ma'mun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah, beliau bertitah pada 9 Oktober 1907, bahwa Bandar Khalifah milik Kerajaan Padang di Tebing Tinggi sebagai Pelabuhan Resmi Kerajaan Padang, disebut juga sebagai Pelabuhan resmi Kesultanan Deli, selain Belawan dan Tanjung Beringin.
Sultan Ma'moen Al Rasyid (1873-1924)
Tengku Sulaiman dari Kesultanan Deli (1885-1888)
Sultan Deli, Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, menganggap Raja Padang, yaitu Raja Haji Tengku Muhammad Nurdin/ Tengku Haji, tidak setia kepada Kesultanan Deli serta memecat beliau, kemudian mengangkat keluarganya yaitu Raja Muda Tengku Sulaiman menjadi pejabat Raja Negeri Padang.

Tengku Jalaluddin Tengku Temenggong Deli (1914-1928)
Raja X. Tengku Alamsyah gelar Tengku Maharaja Bongsu (1928-1931)
Pada 1914 Maharaja meminta berhenti karena uzur. Putera beliau dari Puan Suri Tengku Syarifah Jawiyah – Kedah, yaitu Tengku Alamsyah masih berhalangan, maka untuk sementara diangkatlah pejabat, yaitu Tengku Ibrahim dan Tengku  Jalaluddin - Tengku Tumenggung Deli, sampai Tengku Alamsyah berkebolehan.

Dua belas tahun kemudian, Tengku Alamsyah ditabalkan menjadi raja Kerajaan Padang dengan gelar Tengku Maharaja Bongsu, 1926. Meski saat Tengku Alamsyah dinobatkan menjadi Maharaja, Deli berpendapat bahwa turunan  Raja Tengku  Tebing Pangeran lah yang berhak menjadi raja, bahkan Deli kembali mengutus Tengku Temenggung Djalaluddin ke Tebing Tinggi.

Di era pemerintahan ini, juga dilanjutkan pembangunan Tebing Tinggi dengan meminjam kas Kesultanan Deli sebesar 40.000 gulden. Namun terjadi sebuah penggelapan, karenanya pada mei 1932, Tengku Alamsyah lari ke Riau. Tengku Sortia putera Tengku Haji Jamta Melayu  menemui Deli di Medan, untuk memediasi. Upaya Tengku Sortia membawa hasil, pinjaman tersebut diputihkan oleh Deli karena ikhtikat utusan kerajaan Padang tersebut mempertemukan Tengku Alamsyah dengan Sultan Deli pada 14 Maret 1935. Dalam sumber lain disebutkan ada peran Tengku Hassim dalam penyelesaian kasus abangdanya tersebut.

De Radja van Padang, Tengkoe Alamsjah die zijn standplaats in mei 1932 zonder achterlating van adres verliet, endoor wiens op greete schaal verduisteringen tot een bedrag van meer dan f.40.000 ten nadeele van het landschap Deli werdan gepleegd keerde op 14 maart 1935 uit eegen beweging in Medan terug. (MO Gubernur ST JHR BCCMM Van Suchtelen 29-06-1933 - 31-01-1936).

Dalam koresponden penulis dengan Dr. Tengku Mansoer Adil Mansoer di Belanda, tentang ini, ia menulis: Raja dari Padang, Tengku  Alamsyah, meninggalkan tempatnya bulan Mei 1932, tanpa memberi tahu tempat pendiamannya yang baru. Ia menggelapkan uang sebesar Fl. 40.000,00 (gulden) dari harta Landschap Deli dan pada hari 14 Maret 1935 ia kembali ke Medan dengan rela dari Tengku Sortia. Dalam surat kabar yang lain namanya tak disebut hanya Tengkoe A.

Miraza, 2013, menulis: “…Raja Negeri Padang, yaitu Tengku Alamsyah, yang dikirim Belanda ke penjara di Bengkalis Riau karena beliau membuat kesalahan”.

Di saat kepergian Tengku Alamsyah ini, Atas perintah Deli, Kerajaan Padang dijabat saudara-saudaranya, masing-masing Tengku Ismail (1932-1933) dan Tengku Hassim (menjabat pada1933 – hingga muncul revolusi sosial 1946).

Tengku Ismail (1931-1933)
Tengku Hassim (1933 hingga Revolusi Sosial 1946)
Tengku Hassim, Raja Terakhir Kerajaan Negeri Padang
Tengku Hassim dimasa menjabat tersebut, beliau yang alumni Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum) juga memimpin Kerapatan Kerajaan Padang, dengan jaksa masa itu adalah Tengku Syahduddin dan Tengku Said Almi.  Kerapatan ini khusus mengadili orang bumi putra. Kerapatan atau pengadilan untuk asing berkedudukan di Pematang Siantar yang bersidang di Tebing Tinggi dipimpin oleh Hakim ketua Mr. Derkswagar dan jaksanya Baginda Marah Said.
Raja & Orang Besar Kerajaan Negeri Padang di Tebingtinggi Deli
Pengadilan waktu itu disebut Landrat, khusus mengadili orang – orang asing (berbahasa asing). Setelah perang dunia ke II tahun 1947 dan dengan keluarnya Undang – Undang Darurat Tahun 1951, Kerapatan Kerajaan ini dilebur menjadi pengadilan Negeri, dan ditetapkan Tengku Hassim menjadi hakim yang pertama di pengadilan negeri, jaksa waktu itu Ismail Karmin dengan daerah Jabatannya Untuk wilayan Padang (Tebing Tinggi sekitarnya).

Ketika terjadi Revolusi Sosial 1946, Tengku Hassim mengungsi ke Medan, menyelamatkan diri dari amuk masa, tepatnya pada Maret 1946. Sejak itu, Kerajaan Negeri Padang bubar dan bergabung dengan Republik.



Setelah revolusi sosial 1946, Tebing Tinggi dipimpin oleh seorang walikota yaitu Munar S Hanijoyo sampai 1947, meski selanjutnya Tengku Hassim menjadi walikota Tebing Tinggi  hingga 1950, selanjutnya digantikan oleh Tengku Alamsyah hingga 1951.
Peta Sumatera Timur sebelum 1946
Raja XI. Tengku Izhanolsyah bin Tengku Alamsyah
Raja XII. Tengku Nurdinsyah Al Hajj gelar Tengku Maharaja Bongsu Negeri Padang (2014 - Sekarang)
Tengku Nurdinsyah Al Hajj gelar Tengku Maharaja Bongsu Negeri Padang dikukuhkan sebagai Wazir Kesultanan Deli di Negeri Padang pada hari Minggu, 18 April 2004.


Concessie (Konsesi Tanah)
Pada tahun 1881 datang permintaan dari Naeher & Grob untuk membuka concessie di wilayah Kerajaan Padang dan Bedagai. 1882 datang pula Controleur dari Labuhan dan Serdang, soal hubungan Raja Padang yang Melayu dengan Batak di Pagurawan yang dikatakan kurang mesra. Kedua controleur itu mendapat kesan bahwa untuk memberi concessie ini hanyalah lebih dahulu dapat diatur di daerah-daerah Melayu saja, sedang daerah-daerah orang Batak yang bermukim harus pelan-pelan dan hati-hati.

15 Desember 1884 dibuat kontrak antara Sultan Deli & Tengku Pangeran dengan Gouvernement, yang mengatur pengalihan cukai, monopoli dan sebagainya. Pada 5 Maret 1885, Kerajaan Padang masing-masing mendapat 30.000 gulden per tahunnya, dibagi menurut sepanjang adat antara yang berhak.


Pada 2 Juni 1907 diadakan politiek contract baru antara Sultan Deli dengan Gouvernement. Sampai saat itu dalam pemerintahan Sultan Deli ada pula Maharaja Padang, Raja Pangeran Bedagai, terdapat orang-orang besar dengan title Kejeruan. Sehingga gouvernement tetap akan mengeluarkan schadevergoeding kepada pemerintah zelfbestuur sebesar 185.850 gulden.

Perihal aturan hukum, gouvernement untuk Sumatera Timur mengatur pembagian pengadilan dalam kerajaan, berdasarkan wilayah Bataksche Streken dan Daerah Melayu.  Kerapatan Raja Padang di Daerah Melayu  berhak mengadili sampai f.625, dan boleh appel kepada Kerapatan Negeri jika pokok perkara lebih dari f.125. Kerapatan Negeri mengadili lebih besar dari itu, dan boleh appel ke Kerapatan Sultan jika pokok perkara lebih dari f.1250.

Beberapa Nama Wilayah Di Tebingtinggi
Cong Api
Kata Cong Api berasal dari nama Tjong A Fie adalah seorang bankir dari Meixian, Guangdong, Tiongkok. Setelah perantauannya di Medan pada 1875 lampau, dia membangun bisnis perkebunan besar, yakni pabrik kelapa sawit, pabrik gula, perusahaan kereta api, dan memiliki lebih dari 10.000 karyawan berkat kepiawaiannya dalam bergaul dengan gaya prularisme.

Wilayah Jl. Tjong A Fie kini bernama Jl. KH Ahmad Dahlan, tapi tetap melekat dalam sebutan Cong Api. Di wilayah ini berjejer beberapa stand pedagang lemang.

Kota Tebing Tinggi disebut juga Tebing Tinggi Deli, dikenal sebagai Kota Lemang. Disebut Kota Lemang, seperti halnya daerah-daerah lain di Pulau Sumatera, lemang menjadi salah satu panganan khas pada hari besar tertentu.

Di Tebing Tinggi dulu, lemang didagangkan keliling kampung. Di sekitar tahun 1958, pendatang etnis Minangkabau mulai memasuki kota Tebing Tinggi, dan memulai melirik Lemang menjadi dagangan yang menjanjikan keuntungan.

Jadilah Tebing Tinggi menjadi lebih Kota Lemang, sejak Pemko Tebing Tinggi membuat Pesta Lemang Terbesar dan Terbanyak dengan 96 varian rasa. Peristiwa unik ini tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI), 29/06/2013.

Bulian
Kayu Ulim (eusideroroxylon zwageri) dalam bahasa Melayu disebut Bulian. Adalah nama pohon besar yang berkayu keras, yang baik dipergunakan untuk bahan bangunan dan jenis atap.

Di wilayah Bulian di Tebing Tinggi, dahulu banyak ditumbuhi jenis pohon yang tingginya mencapai 50m dengan diameter 170cm ini.

Wilayah Bulian, dulu pernah menjadi Ibu Negeri Kerajaan Padang.

Bandar Sakti
Nama Bandar Sakti disebut pertama kali oleh Tengku Achmad Rasyid alias Penghulu Amat. Tengku Achmad Rasyid adalah Bangsawan Langkat yang diminta Raja Siantar untuk menjadi Hoofd Penghulu di Bandar Tinggi karena terjadi kerusuhan antar Puak Simalungun, Mandailing, Rao dengan Banjar di wilayah tersebut.

Pada maret 1946 terjadi revolusi sosial pembantaian kaum bangsawan. Keluarga Penghulu Amat dan Turunan Raja Tanjung Kasau lari menyelamatkan diri di sebuah rumah di wilayah yang kini disebut Jl. F Tandean Tebing Tinggi.

Pada hal wilayah tersebut adalah wilayah kantong bangsawan Kerajaan Padang, yang juga sebenarnya rawan menjadi korban pembantaian.

Kesaktian wilayah tersebut yang mampu menyelamatkan kaum bangsawan dari amuk pemberontak disebut Bandar Sakti.

Bagelen
Dari hikayat mulut ke mulut adalah wilayah berpaya di pinggiran Tebing Tinggi sekarang. Di dekat paya itu tinggal seorang puteri yang selalu bertenun songket, Puteri Pinang Sendawar.

Konon sang puteri adalah anak seorang raja yang selalu kematian anak. Maka raja mengasingkan sang puteri, agar tidak meninggal dunia. Di tempat pengasingan tersebut Puteri Pinang Sendawar yang selalu bertenun songket tersebut akhirnya menikah dan memiliki dua anak lelaki.

Ternyata aktifitas bertenun songket masih ia lakukan setelah memiliki anak. Keasyikan bertenun itu membuat ia lupa waktu dan akhirnya dua anaknya mati kelaparan di dalam lumbung. Padahal salah satu anaknya masih usia menyusui. Puteri itu akhirnya kalut dan menyusui anak lembu.

Kisah klasik di wilayah tersebut ternyata ada kemiripan dengan kisah asal muasal daerah Bagelen di Pulau Jawa. Oleh para kuli kontrak pekerja perkebunan asal Jawa, wilayah itu mereka namakan Bagelen.

Kampung Durian
Disebut Kampung Durian, karena dulu banyak ditumbuhi pohon-pohon durian.

Kampung Bicara
Bicara dalam bahasa Melayu artinya adalah akal budi, pikiran, perundingan, beperkara, berurusan, pertimbangan pikiran, pendapat, berbahasa dan berkata.

Di wilayah Kampung Bicara, dulu berdiam seorang cendikia yang pembicaraannya bernas dan buah fikirnya selalu memberi solusi terbaik. Konon orang segan menaiki rumah panggungnya jika ingin meminta Beliau berbicara, tapi sang cendikiawan akan turun dari rumah panggung dan mengajak orang berbicara di bawah pohon manggis yang tumbuh di halamannya.

Bandar Sono
Dulu di wilayah ini sudah lama menjadi daerah pemukiman. Banyak tumbuh pohon angsana (Pterocarpus indicus). Pohon angsana dalam bahasa lokal disebut Pokok Sono atau dalam dialek lain disebut Sena. Karenanya wilayah ini disebut Bandar Sono.

Persiakan
Di wilayah ini dulu sunyi, sungai menjadi wilayah pelintasan peniaga ke pusat Tebing Tinggi. Jika pedagang yang bersampan melewati tempat ini, maka acapkali menemukan kaum asal Siak yang bermukim di wilayah ini. Karena orang-orang asal Siak tersebut bermukim di tempat itu, maka orang menyebutnya Persiakan.

Persiakan  dalam bahasa Melayu memiliki beberapa arti yaitu tempat perawat surau atau daerah yang tumbuh pohon siak (Dianelle ensifolia).

Kampung Mandailing
Perjalanan Tuanku Tambusai yang berperang melawan Belanda melintasi pegunungan Bukit Barisan (Mandailing, Angkola, Padang Lawas dan Kota Pinang) kemudian dipandang sebagian penting dalam sejarah migrasi orang Mandailing. Jalur perjalanan itu kemudian dipakai para perantau sebagai jalur pertama ke Sumatera Timur. Gelombang kedua migrasi orang Mandailing dalam jumlah besar terjadi pada tahun 1840-an. Ketika itu perkebunan belum dibuka di Sumatera Timur. Sejak itu migrasi orang Mandailing terus berlanjut. (Pelly, 1994:42,55).

Tanah Deli  (orang Mandailing-Angkola menyebutnya Tano Doli) adalah daerah rantau utama orang Mandailing-Angkola. Para perantau awal Mandailing-Angkola tampil sebagai guru, guru agama, kerani, kadhi atau pedagang. Pembauran mereka dengan masyarakat Melayu tidak mengalami kesulitan, karena terutama adanya persamaan agama. Keturunan mereka ditambah dengan para migran yang terus berdatangan sejak akhir abad XIX telah membentuk suatu komunitas tersendiri.

Hubungan mereka yang erat dengan kalangan bangsawan Melayu menempatkan mereka pada kedudukan yang terhormat di kalangan masyarakat. Banyak diantara mereka yang menjadi pejabat pejabat agama kesultanan dan kerajaan.

Keberhasilan perantau Mandailing di pesisir Sumatera Timur antara lain karena : kesamaan dalam agama dan keyakinan dengan suku Melayu, pendidikan yang lebih baik , dan kurangnya persaingan kelompok-kelompok etnis lain. Dalam hal ini perantau Mandailing memiliki dua keuntungan, yaitu; 1. Simpati kesultanan kesultanan Melayu, dan 2. Posisi ekonomik mereka yang lebih lama. (Castles,1972:187;Pelly,1994:61).

Di Tebing Tinggi sendiri, Kampung Mandailing dulu adalah pemukiman yang disediakan Kerajaan Padang untuk kaum ulama asal Mandailing – Angkola yang kedudukannya setara dengan Melayu, dan dianggap sebagai puak Melayu.

Kondisi nyaman yang didapat Orang Mandailing dari penguasa Melayu di Tebing Tinggi, membuat migrasi Mandailing ke Tebing Tinggi semakin bertambah dari golongan usahawan emas yang cukup berhasil. Di dunia kesenian Melayu, Orang Mandailing turut berkiprah sebagai seniman lagu, musik dan lainnya, bahkan turut berbahasa Melayu fonem ‘O’ sebagai bahasa utama.

Kampung Rao
Rao adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, Rao sendiri adalah sub etnis Melayu.

Kehadiran etnis Melayu Rao ke Tebing Tinggi, sezaman dengan kehadiran Mandailing. Pemukiman orang Rao tidak jauh dari Kampung Mandailing, yang disebut Kampung Rao.

Tongkah
Wilayah yang dulu sebagai rantau Padang, kini berada di sekitar Kampung Muslimin, Nagur Bayu, Nagur Usang. Dulu sebagai negeri wazir Padang yang ditanam tembakau.

Rantau Laban
Rantau Laban secara bahasa artinya adalah daerah yang banyak ditumbuhi pohon laban. Pohon Laban berkayu putih kekuning-kuningan, kulit dan daunnya  lebih besar dari pada daun kenari,  biasa digunakan untuk obat; Vilex pubescens. Ada beberapa jenisnya Laban, seperti  Laban Bunga dan Laban Kunyit.

Sekarang Berganti nama Menjadi Rumah Sakit Sri Pamela milik PTPN. Dibangun Belanda di Rantau Laban
Di Rantau Laban dahulu sebagai ‘luhak’ dari Negeri Padang, yang pernah dipimpin Tengku Alaidin Sri Maharaja, Ia juga pernah menjadi Tengku Maharaja wazir Negeri Serdang. Yang terakhir Luhak Rantau Laban dipimpin Tengku Muhammad Aminullah, zuriatnya kini banyak bermukim di Paya Lombang.

Tengku Muhammad Aminullah (Koleksi Tengku Ibnu Hibban) 

Sumber
Tulisan Tengku Ibnu Hibban

2 Komen:

Benny Azwan mengatakan... Reply Comment

Sudah pernah di cek kebenarannya rif...?karena setahu saya kerajaan padang dan kampung Tebing Tinggi adalah 2 hal yang mempunyai sejarah masing2...yg jadi pertànyaan adalah:kalau memang benar yg mendirikañ T.Tinggi adalah Tebing pangeran,mengapa setiap 1 juli pemerintah setempat melaksanakan upacara dan ziarah ke makam Dt.Bandar kajum...?bukan ke makam Tebing pangeran....

Sarwendy Sigalingging mengatakan... Reply Comment

memang Tebing Tinggi yang sekarang termasuk wilayah kerajaan Padang dulu, tapi menurut saya itu juga nggak bisa dijadikan sebagai tonggak berdirinya Tebingtinggi. dari artikel yang saya pernah baca, kalau Tebingtinggi yang sekarang berdasarkan wilayah kekuasan Bandar Kajum.