Tokoh-Tokoh Di Zaman Setelah Terbentuknya Tempat Bernama Tebingtinggi

"Tebing Tinggi dalam lintasan sejarah", begitulah judul tulisan karya Bah Muhar di salah satu laman blog nya yang isinya memuat tentang Sejarah Kerajaan Negeri Padang, Konsesi Tanah, nama-nama tempat di Tebingtinggi Deli hingga Beberapa Tokoh yang pernah berjasa kepada Negeri Padang. Tokoh-tokoh tersebut adalah berjasa di zamannya masing-masing, sebut saja Bandar Kajum, Pendatang yang dianggap berjasa kepada Negeri Padang serta diberi gelar "Datuk", lalu Syeh Haji Tengku Muhammad Hasyim yang masih bersaudara dengan Tengku Jamta Melayu dan Tuan Syekh Baringin yang berjasa dalam perjuangan melawan Jepang dan melindungi Keluarga Kerajaan Negeri Padang ketika terjadi Revolusi Sosial 1946.

Datuk Bandar Kajum
Merujuk makalah tertanggal 15 juni 1978, berjudul “Kertas Kerja Mengenai Pokok-Pokok Pikiran Sekitar Hari Penetapan Berdirinya Kotamadya Daerah Tingkat II Tebing Tinggi – Arisan Keluarga Besar Anak Cucu Datuk Bandar Kajum Pendiri Kota Teb. Tinggi”, yang ditandatangani Panitia peneliti/perumus hari penetapan berdirinya Kotamadya Daerah Tingkat II Tebing Tinggi, yaitu Dt. Idris Hood Damanik, Adnan Ilyas, Drs. Mulia Sianipar, Amirullah, Kasmiran, Djundjungan Siregar, Mangara Sirait, Sjahnan, dan OK Siradjoel Abidin, kemudian dianggap sebagai awal berdirinya Kota Tebing Tinggi adalah 1 Juli 1917.

Sejarah berdirinya Kota Tebing Tinggi yang terpakai saat ini, diketahui dari sebuah memori Tuan J.J. Mendelaar, mantan Voorzitter Don Gemeenteraad Tebing Tinggi, yang bila diterjemahkan secara bebas berbunyi : “Setelah beberapa tahun dalam keadaan vakum mengenai perluasan pelaksanaan desentralisasi, maka pada tanggal 31 Juni 1917 berdirilah Gemeente Tebing Tinggi dengan Insteling Ordonantie Van Staatsblad 1917 nomor 282, yang mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1917.
Datuk Muhammad Ali bin Haji Abdul Karim (Datuk Bandar Kajum), Datuk Penggawo Negeri
Kediaman Datuk Muhammad Ali
Riwayat menceritakan, bahwa ada seseorang bernama Bandar Kajum meninggalkan kampungnya melawat ke daerah Padang (Kota Tebing Tinggi dan sekitarnya), bersama-sama keluarga dan pengikut-pengikutnya. Konon sebenarnya beliau berasal dari Pamatang Bandar karena diserang kerajaan lain pindah ke Siak.

Mula-mula mereka menempati sebuah kampung yang bernama Tanjung Marulak di daerah Kebun Rambutan. Di Tanjung Marulak inipun mereka mendapat serangan dari  Raya, kemudian Datuk Bandar Kajum mencari tempat tinggal di atas dataran tinggi di pinggir sungai Padang.

Bersama dengan beberapa pengikutnya Bandar Kajum mendirikan rumah dan kampung yang dipagari dengan kayu yang kokoh di tepi sungai Padang, dibuatnya tempat pertahanan gunanya untuk menahan serangan musuh kalau datang menyerbu kampung.

Pada suatu ketika puluhan orang dari Raya datang menyerang kampung Bandar Kajum, karena dianggap sebagai ‘pendatang haram’ di negeri Padang (baca: Tebingtinggi). Melihat musuh yang datang, seluruh keluarga Bandar Kajum dan orang-orang di kampung itu melarikan diri mengungsi ke kebun Rambutan.

Diceritakan, Bandar Kajum memperoleh bantuan dari administratur kebun Rambutan, sehingga Bandar Kajum dapat mengelakkan orang-orang dari Raya dan pimpinan pasukannya dapat ditawan. Kemudian Datuk Bandar Kajum dan keluarganya bersama pengikut-pengikutnya kembali ke kampung yang telah dibangunnya, di dataran tinggi pertemuan sungai Padang dan sungai Bahilang. Di tempat itu pernah dibangun pelataran tempat sampan berlabuh dan tempat sampan ditambatkan.

Bandar Kajum sendiri dalam bahasa Melayu berarti 'tempat berlabuh nan mampu mengajak atau merangkul' (bandar: tempat berlabuh; kota pelabuhan. kajum: ayo kemari, mengajak). Menurut turunannya, Datuk Bandar Kajum lahir pada tahun 1791, setelah menunaikan ibadah haji memakai nama Haji Abdul Karim.

Syekh Haji Tengku Muhammad Hasyim
Syekh Haji Tengku Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi merupakan satu di antara Khalifah Tariqat Naqsabandi yang pernah memimpin pusat Persulukan Tariqat (Pusat Belajar Agama Islam) di Kampung Basilam, Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Syekh Haji Tengku Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi, dari banyak penuturan wafat di Kampung Kebun Kelapa pada 1928. Ulama kharismatik itu diperkirakan berusia 130 tahun dan dikebumikan di pemakaman keluarga, kini terletak di Gg. Keluarga Link.01, Kelurahan Tebing Tinggi, Kecamatan Padang Hilir.

Tengku Muhammad Hasyim dilahirkan di Bandar Khalifah sekitar tahun 1792 dari keluarga Kerajaan Melayu Padang berpusat di Tebing Tinggi. Ayahnya bernama Tengku Abdullah, bangsawan zuriat Kesultanan Johor. Beliau saudara sewali dari Tengku Haji Jamta Melayu – putera dari Raja Kerajaan Padang, Tengku Tebing Pengeran yang gugur akibat pengkhianatan dalam perang yang dipimpin Daeng Salasa gelar Panglima Daud dari Kerajaan Negeri Bedagai.

Raja Tebing Pangeran dalam literature terbatas, dikenal sebagai pemberi nama dan pendiri Kota Tebing Tinggi. Di masa kekuasaannya, berdiri Pelabuhan Sungai di tepian Sungai Padang tepatnya di Muara Sungai Bahilang. Pangkalan ini diberi nama sesuai dengan nama pendirinya, yakni Pangkalan Tebing dan namanya berkembang menjadi nama sebuah kota yang menjadi bagian dari salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara sampai saat ini. Pasca wafatnya Tengku Tebing Pengeran, tampuk kekuasaan Kerajaan Melayu Padang dikendalikan zuriat dari garis perempuan.

Gejolak politik kerajaan itu, telah meminggirkan hak-hak politik dari warga Melayu pesisir, sehingga banyak di antaranya yang beralih perhatian dengan mendalami agama Islam dan menjadi ulama. Salah satunya adalah Tengku Muhammad Hasyim yang saat itu masih berusia muda. Dia mendalami ilmu Tariqat dari aliran Naqsabandiyah di Basilam, hingga kemudian sempat memimpin Persulukan ini.

Tengku Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi sempat menunaikan ibadah haji ke Makkah, berlayar dari Pangkalan Tebing menuju Bandar Khalifah. Dari Bandar Khalifah, jamaah haji kala itu menyeberang ke Penang, Malaysia dan terus berlayar ke Jeddah.

Pada masa berikutnya, Tengku Muhammad Hasyim kembali ke kampung halamannya di Kerajaan Melayu Padang dan menetap di Kampung Kebun Kelapa yang saat ini menjadi salah satu wilayah dari Kota Tebing Tinggi. Beliau menikah dengan Hj. Syofiah dan mendapat tujuh anak dari isteri pertamanya ini. kemudian beliau juga mempunyai 3 orang isteri lainnya.

Dari daerah Kebun Kelapa inilah menjadi awal dari penyebaran paham naqsabandiyah ke berbagai wilayah, meliputi kerajaan Padang, Bedagai hingga ke Kerajaan Serdang. Lima Laras dan Kerajaan Bandar. Beberapa persulukan sempat dibuka murid-murid Tuan Guru Mhd. Hasyim, di antaranya di Bedagai, Sei Buluh, Lidah Tanah, Tebing Tinggi dan Bandar Khalifah. Jejak terakhir dari penyebaran tariqat ini masih terlihat di Lidah Tanah, tepatnya di Kampung Tengah. Dulu dipimpin Khalifah Adnan dan terakhir ada di Sei Buluh dipimpin oleh H. Dul Hadi.

Sebutan lain untuk Beliau adalah Tuan Guru Muhammad Hasyim, juga membuka persulukan di lahan miliknya. Namun, saat ini persulukan itu telah lama rubuh dan lahannya kini menjadi area perkebunan ubi, tepat di pinggir rel kereta api di kelurahan Tebing Tinggi. Semasa hidupnya, Tengku Muhammad Hasyim Al Kholidi Naqsabandi kelebihan sebagai tanda kedekatannya kepada Allah. Pada banyak keterangan yang didapat pada masa hidupnya, Syekh Muhammad Hasyim ini dikenal dengan doanya yang makbul. Kelebihan lain yang sempat terekam dalam ingatan keturunannya, adalah kemampuan Tuan Guru Muhammad Hasyim dalam melihat maksud orang yang datang kepadanya. Begitu pula dengan kemampuannya melihat masa lalu dan masa depan, sehingga banyak masyarakat saat itu yang meminta petunjuk padanya.

Tuan Syech Baringin
Adalah Ulama Tariqat Kharismatik di Kota Tebing Tinggi. Beliau dikenal berkaromah. Dikisahkan, Ketika Serdadu Jepang ingin menangkapnya di tempat persulukannya di Kampong Kebon Kelapa Tebing tinggi, tiba-tiba saja daerah itu menjadi hamparan telaga. Tuan Syech Baringin juga merupakan pimpinan umum dari organisasi Barisan Sabilillah Muslimin Indonesia cabang Tebing Tinggi dan pemimpin dari Markas Agung Tebing Tinggi. Organisasi BASMI yang dipimpin Tuan Guru Syekh Baringin juga berperan aktif ketika terjadi revolusi Sumatera Timur yakni berperan dalam melindungi sisa pelarian kaum bangsawan Kerajaan Langkat dan melindungi keturunan Kerajaan Negeri Padang di Tebing Tinggi.
Tuan Syekh Baringin (Koleksi Tengku Muhar)
Beliau juga turut berjuang dalam peristiwa 13 Desember 1945 dan turut aktif dalam perjuangan kemerdekaan di Tebing Tinggi. Dalam bidang pendidikan, beliau dulunya berperanan aktif memberikan pengajaran agama islam kepada murid-murid yang datang belajar ke rumahnya sambil mengembangkan tarekat Naqsabandiyah dan Samaniyah di Tebing Tinggi, mengajarkan Silat, serta memberi pelayanan terhadap masyarakat luas.

0 Komen: